Tanya jawab seputar fidyah

Bismillaah..

Ustadz tolong bantu ana menjawab keraguan ini. Ummi saya telah meninggal akhir tahun lalu. Sekarang saya bingung apakah ummi saya masih punya utang puasa atau tidak. Saya takut apabila beliau punya utang puasa dan belum dilunasi. Apa yang seharusnya saya lakukan sebagai seorang anak ?. Apakah saya harus mengqodho’ puasanya atau cukup membayar fidyah?. Tapi saya tidak tahu beliau punya utang puasa atau tidak. Dan saya juga tidak tahu berapa utang puasa beliau jika beliau ada utang puasa. Syukron..

 Jawab :

Tentang masalah qadha puasa bagi keluarga yang telah meninggal, maka diantara penjelasan hal tersebut adalah riwayat Ibnu ’Abbas –radhiyallahu ’anhuma- berkata;

إذا مرض الرجل في رمضان ثم مات ولم يصم أطعم عنه ولم يكن عليه قضاء وإن كان عليه نذر قضى عنه وليه

“Apabila seorang sakit di bulan Ramadhan, lantas ia meninggal dunia sebelum sempat membayarnya; hendaklah dikeluarkan dari hartanya untuk memberi makan orang miskin (sejumlah hari yang ia tinggalkan), tidak wajib untuk menggantikan puasanya. Namun bila yang ditinggalkannya itu adalah puasa nadzar, maka hendaklah walinya menggantikan puasa si mayit tersebut.”. (HR Abu Daud)

Kewajiban tersebut diperintahkan bagi ahli waris yang mengetahui keadaan keluarganya yang wafat dan tidak sempat menjalankan puasa wajibnya.

Dalam kasus yang ditanyakan, bila ia yakin bahwa ibu yang telah wafat tersebut tidak sempat berpuasa Ramadhan karena sakit pada beberapa waktu tertentu, namun ia tidak mengetahui jumlah hari puasa yang ditinggalkannya itu, maka hendaknya ia memperkirakannya dan memberi makan kepada orang miskin sejumlah hari yang diperkirakannya tersebut.

Tetapi bila ia sedikitpun tidak mengetahui keadaan ibunya itu, adakah beliau telah berpuasa atau tidak; maka tidak ada kewajiban apapun atas ahli warisnya. Namun jika ia ingin memberi makanan kepada fakir miskin sejumlah hari tertentu sebagai bentuk kehati-hatian, maka in sya Allah hal itu adalah baik.

Wallahu a’lam bis shawaab

Wanita hamil dan menyusi, Qadha Atau Fidyah ?

Jawab :

Satu diantara nikmat dan karunia-Nya yang maha luas adalah beberapa alternative pengganti yang Ia syari’atkan bagi orang-orang yang berada dalam kondisi tertentu berkenaan dengan ibadah yang wajib dilakukannya.

Diantara orang-orang yang mengalami kondisi tertentu itu adalah ibu hamil dan menyusui berkenaan dengan kewajibannya melaksanakan ibadah puasa.

Maka sebagai bentuk keringanan yang Allah berikan kepada mereka adalah kebolehan untuk tidak berpuasa dan menggantinya dengan membayar fidyah. Inilah bentuk rahmat yang Allah berikan kepada mereka. Syaikh Sayyid Sabiq berkata (Fiqhu as Sunnah, 1/440);

والحبلى، والمرضع – إذا خافتا على أنفسهما، أو أولادهما أفطرتا – وعليهما الفدية، ولاقضاء عليهما عند ابن عمر، وابن عباس.إهـ

“Menurut pendapat Ibnu Umar dan Ibnu ‘Abbas, boleh bagi wanita hamil dan menyusui yang khawatir akan diri atau janin atau anaknya untuk berbuka puasa. Dan wajib bagi mereka membayar fidyah, bukan membayar qadha.”.

Beberapa dalil masalah ini adalah (lihat di “al Istidzkaar”, 3/327-328);

1. Riwayat Hammad bin Zaid, dari Ayyuub, dari Naafi’e, dari Ibnu Umar. Demikian pula riwayat dari Hammad bin Salamah, dari Ayyub, dari Ubaidullah bin Umar, dari Naafi’e, dari Ibnu Umar;

أنه كان يقول في الحامل والمرضع يفطران وتطعمان عن كل يوم مدا لمسكين

“Ibnu Umar berkata tentang wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa bahwa kewajiban mereka adalah memberi makan sebanyak satu mud kepada seorang miskin setiap hari.”.

2. Riwayat Mu’ammar, dari Ayyub, dari Naafi’e, dari Ibnu Umar, Beliau berkata;

الحامل إذا خشيت على نفسها في رمضان تفطر وتطعم ولا قضاء عليها

“Wanita hamil yang khawatir akan kemaslahatan dirinya sehingga tidak berpuasa di bulan Ramadhan berkewajiban untuk memberi makan (membayar fidyah), dan bukan mengqadha puasa.”.

3. Riwayat Sa’id bin Jubair, ‘Atha, dan ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, Beliau berkata;

خمسة لهم الفطر في شهر رمضان المريض والمسافر والحامل والمرضع والكبير فثلاثة عليهم الفدية ولا قضاء عليهم الحامل والمرضع والكبير

“Lima golongan yang boleh berbuka puasa di bulan Ramadhan adalah orang sakit, musafir, wanita hamil, wanita menyusui, dan orang tua yang tidak lagi sanggup berpuasa. Tiga diantara mereka yang berkewajiban untuk membayar fidyah, dan bukan membayar qadha adalah; wanita hamil, wanita menyusui, dan orang tua yang tidak lagi sanggup berpuasa.”.

4. Ishak bin Rahuuyah berkata;

والذي أذهب إليه في الحامل والمرضع أن يفطرا ويطعما ولا قضاء عليهما اتباعا لابن عباس وابن عمر

“Pendapat yang saya pilih berkenaan dengan kewajiban bagi wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa adalah membayar fidyah, dan bukan membayar qadha; sebagaimana pendapat dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar

Berdasarkan dalil-dalil tersebut dinyatakan bahwa wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan berkewajiban membayar fidyah dan bukan qadha.

Wallahu a’lam bis shawaab

Berapa besaran fidyah yang wajib dikeluarkan oleh wanita hamil dan menyusui ketika berbuka di bulan Ramadhan dan bagaimana hukum seorang wanita yang menyusui bertepatan dengan masa haid/nifasnya, apakah dia wajib mengqadha karena haid atau membayar fidyah karena tengah menyusui ?

 Jawab :

Wanita yang menyusui boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah. Adapun wanita yang haid, maka wajib tidak berpuasa dan menggantinya dengan qadha; demikianlah jenis ibadah yang diperintahkan kepadanya.

Dari keterangan ini diketahui bahwa penghalang puasa bagi wanita yang haid di waktu menyusui lebih didominasi oleh sebab haidnya dan bukan karena sebab menyusui. Olehnya itu, maka hari-hari puasa yang ditinggalkannya selama masa haid, wajib untuk diqadhanya.

Adapun besaran fidyah yang wajib dikeluarkan oleh wanita hamil dan menyusui ketika tidak berpuasa di bulan Ramadhan yaitu sebesar satu mud atau kurang lebih 600 gr makanan pokok (0,79 atau dibulatkan menjadi satu liter). (Riwayat Abu Hurairah).

 Wallahu a’lam bis shawaab 

Bagaimana jika seorang yang tidak lagi sanggup berpuasa karena usia yang telah lanjut, dan tidak juga sanggup membayar fidyah karena keadaan ekonominya yang tidak memungkinkan untuk itu ?

 Jawab :

Jika keadaannya demikian, maka gugurlah kewajiban orang tersebut, dan ia tidak berkewajiban apapun. Allah berfirman;

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Tidaklah Allah membebani seorang hamba melainkan yang sanggup dikerjakannya.”. (Al Baqarah; 286)

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا

“Tidaklah Allah membebankan seseorang melainkan sesuai dengan kadar yang dikaruniakannya kepada hamba tersebut.”. (At Thalaaq; 7).

Wallahu a’lam bis shawaab

 

 

242 dilihat
Hubungi Kami