Beberapa kebiasaan di hari raya dan hukumnya

1. Mengucapkan selamat hari raya

Mengucapkan selamat hari raya kepada keluarga dan rekan ketika hari raya adalah merupakan hal yang baik. Jubair bin Nufail berkata;

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

“Para sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika bertemu di hari I’ed biasanya saling mendoakan dengan mengucapkan “taqabbalallahu minna wa minka” (semoga Allah menerima segala amalan kami dan engkau di bulan Ramadhan).”. [Fathul Baari, 3 /372].

Adapun menggunakan ucapan-ucapan selamat lainnya, sesuai dengan kebiasaan masing-masing orang dalam komunitasnya, maka in sya Allah tidaklah mengapa.

Syekh Muhammad Ibn Shalih Al Utsaimin – Rahimahullah – ketika ditanya tentang hukum mengucapkan selamat pada momen hari raya idul fitri/idul adha, maka beliau pun mengatakan : “Mengucapkan selamat pada momen hari raya adalah sesuatu yang diperbolehkan, dan tidak ada kalimat atau ucapan-ucapan yang dikhususkan, akan tetapi segala bentuk ucapan selamat yang sudah menjadi kebiasaan atau tradisi orang-orang (pada saat hari raya) maka diperbolehkan selama ucapan tersebut bukan ucapan yang mengandung dosa”. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Al Utsaimin : Juz 16 , hal.210 )

2. Berjabat tangan antara lawan jenis yang bukan mahram

Hari raya adalah hari ketaatan dan dipenuhi dengan dzikir kepada Allah Ta’ala. Maka tentunya tidak layak di hari yang agung tersebut ada pelanggaran-pelanggaran syar’i yang kemudian kita tolerir begitu saja dengan dalih merayakan hari raya. Diantara pelanggaran yang kita temukan di tengah masyarakat pada saat berhari raya ialah berjabat tangan dengan yang bukan mahram.

Dalam syariat Islam, berjabat tangan antara dua orang muslim pada saat mereka bertemu tentunya merupakan perkara yang terpuji. Bahkan merupakan sebab diampunkannya dosa. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat bernama Al Bara’ Ibn ‘Aazib, Rasulullah shallallahu aklaihi wasallam bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ، فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Artinya : “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu mereka berjabat tangan melainkan dosa-dosa keduanya akan diampuni sebelum mereka berpisah”. (H.R.Abu Dawud dan dishahihkan oleh syekh Albani)

Namun, tidak semua jabat tangan akan mendapatkan ampunan. Karena konteks hadits di atas tidak berlaku bagi yang berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan merupakan mahramnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam banyak sabdanya telah memperingatkan laki-laki agar tidak berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya. Diantara dalil keharaman berjabat tangan dengan yang bukan mahram adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ma’qil Ibn Yasar, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لأن يطعن في رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة لا تحل له

Artinya : “Adalah lebih baik salah seorang diantara kalian ditusuk kepalanya dengan jarum dari besi dibandingkan jika ia menyentuh tangan wanita yang tidak halal untuknya”. (H.R. At Thabrani dan Al Baihaqi)

Dalil diatas dengan tegas menyatakan keharaman berjabat tangan dengan yang bukan mahramnya. Olehnya maka berhati-hatilah ketika berjabat tangan, agar anda tidak jatuh dalam dosa di hari raya, hari yang dipenuhi dengan ketaatan dan dzikir memuji Allah Ta’ala.

3. Ziarah kubur setalah selesai shalat ied

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan ummat Islam untuk memperbanyak mengingat kematian. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَاذِمِ اللَّذَّات

Artinya : “Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan (kematian)”. (H.R.Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Syekh Albani dan Syekh Al Arnauth)

Salah satu amalan yang dapat mengantarkan seseorang untuk memperbanyak mengingat kematian ialah dengan berziarah kubur. Karena salah satu tujuan disyariatkannya ziarah kubur ialah agar kita sebagai hamba Allah dapat memperbanyak mengingat kematian. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat bernama Abu Hurairah –radhiyallahu anhu-:

زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ، فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ، فَقَالَ: اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Artinya : “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengunjungi kuburan ibundanya, maka beliau pun menangis dan membuat orang-orang yang berada disekitarnya ikut larut dalam tangisan. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “ Aku telah meminta izin kepada Rabbku (Allah) agar aku diperkenankan untuk memintakan ampunan kepada ibuku, maka Allah tidak memperkenankanku. Dan aku kemudian meminta izin kepadaNya agar aku diperkenankan untuk menziarahi kuburan ibu, maka Allah pun mengizinkanku (untuk menziarahi kuburan ibuku). Maka sekarang ziarahilah kuburan karena sesungguhnya ia dapat mengingatkan tentang kematian”. (H.R.Muslim)

Hadits di atas merupakan dalil tentang dianjurkannya menziarahi kuburan. Dan ziarah kubur boleh dilakukan kapan saja tanpa mengkhususkan hari-hari atau momen-momen tertentu untuk melakukannya. Karena mengkhususkan amalan-amalan tertentu untuk dilakukan pada waktu-waktu tertentu haruslah mengacu kepada dalil yang jelas. Dan tidak ada sumber dalil yang menganjurkan kita untuk mengkhususkan ziarah kubur pada hari idul fitri.

 

Wallahua’lam wa baarakallahufiikum

97 dilihat
Hubungi Kami