Al Quran is the power

Tidak jarang kita dapati seorang masuk memeluk Islam setelah mendengar ayat-ayat al Quran dibacakan kepadanya, sementara ia tidak mengerti makna dari ayat yang didengarnya. Lantas bagaimana dengan mereka yang mengerti maksud dari ayat-ayat yang didengarnya tersebut ?

Demikianlah Al Quran, Al Quran itu sendiri berisi lantunan-lantunan kalimat yang membawa getaran-getaran positif bagi siapa saja yang mendengarnya. Getaran-getaran tersebut, manakala berpadu dengan hati yang jernih dan keinginan yang baik; sungguh-sungguh akan menjadi energi besar dan menciptakan pengaruh yang luar biasa.

Wallahu a’lam, mungkin inilah kiranya yang merupakan hikmah dari perintah Allah untuk membacakan al Quran kepada orang-orang musyrik, sebagaimana firman-Nya;

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.”. (At Taubah; 6). Bacakan al Quran kepada mereka, semoga mereka mendengarnya, hingga menjadi lunak hati-hatinya.

Inilah pula kiranya -wallahu a’lam- yang menjadi sumber ketakutan orang-orang musyrik terhadap al Quran. Mereka khawatir jika energi positif yang memancar dari Al Quran tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi orang-orang, hingga beralilah mereka kepada arah kebenaran yang mereka ibaratkan sebagai kematian. Allah berfirman tentang anjuran mereka kepada para pengikutnya;

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

“Orang-orang kafir berkata, jangan kamu dengarkan al Quran ini dan berpalinglah darinya. Semoga kalian menjadi orang-orang yang menang.”. (Fusshilaat; 26)

Al Quran, satu diantara fungsinya adalah mentazkiyyah (mensucikan) jiwa menjadikannya beradab; yang dengan itu akan bermanfaatlah ilmu yang dimiliki oleh seseorang.

Olehnya, mentazkiyah jiwa dan mempelajari adab adalah sebuah proses yang hendaknya terlebih dahulu dilalaui oleh seseorang dalam perjalanannya menuntut ilmu. Allah berfirman;

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِم

“Dialah Allah, yang telah mengutus seorang Rasul di tengah-tengah manusia, yang juga berasal dari mereka. Dia bacakan kepada mereka ayat-ayat Allah dan Ia didik jiwa dan akhlak-akhlak mereka.”. (Al Jum’ah; 2)

Demikianlah sebuah proses menuntut ilmu yang hendaknya dilalui terlebih dahulu. Dan setelahnya, barulah melangkah pada proses selanjutnya, sebagaimana firman-Nya melanjutkan ayat tadi.

وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَة

“Dan ia mengajari mereka al Quran dan hikmah (sunnah yang merupakan penjelasan dan penjabaran al Quran).”.

Maka, dari proses inilah diharapkan akan muncul kader-kader ulama yang betul-betul dapat menjadi panutan dalam akhlak dan ilmunya, yang pada akhirnya akan menjadi pencerah ditengah-tengah krisis akhlak yang tidak saja melanda orang-orang biasa, tetapi yang justru lebih disayangkan, pun turut melanda orang-orang yang dikenal sebagai pegiat Islam. Walaahawla wa laa quwwata illa billah. Imam Malik rahimahullah berkata;

كانت أمي تعلمني وتقول : إذهب إلى ربيعة فتعلّم من أدبه قبل علمه

“Dahulu ibuku berkata mengajariku, ‘Pergilah kepada Rabiáh. Belajarlah darinya akhlak sebelum engkau mempelajari ilmu.”. Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata;

كانوا يطلبون الأدب ثم العلم

“Telah menjadi tradisi para ulama terdahulu, sebelum mereka belajar ilmu, terlebih dahulu mereka belajar akhlak.”.

131 dilihat
Hubungi Kami